Waktu yang Terbang

Saya tidak pernah tahu bagaimana waktu terbang. Biarpun jam dinding, jam meja, jam tangan, jam di komputer selalu berjarak sepandangan mata, rasanya waktu tidak pernah bicara apa-apa. Tanpa sadar, waktu sudah berlari. Lalu tiba-tiba setahun sudah lewat. Menuju ke hari-hari tertentu.

Seperti hari ini.

Ini adalah hari (lebih tepatnya: satu-satunya hari) di mana saya selalu punya bahan untuk berkunjung dan mengupdate lagi blog ini, yang untuk beberapa tahun belakangan ini sering saya lupa untuk isi dengan tulisan baru.

Ini adalah hari di mana saya bersyukur ada seseorang seperti dia di dunia saya. Orang yang membuat saya mengerti bagaimana menjadi kawan yang baik. Dan sebagai kawan, saya sadar betul dia jauuuuuh lebih baik daripada saya. Siapapun yang berteman dan disayangi olehnya, adalah orang-orang yang sangat beruntung.

Dimulai dari blogfam, merambah ke blog, email, lalu YM (yang sering sekali mati daripada nyala), Facebook, Twitter, Blackberry Messenger, Whatsapp, Gtalk, saya menemukan sosok yang rasanya sudah saya kenal akrab. Dia panggil saya Nek, saya panggil dia Mak. Saya heran karena merasa sangat sayang padanya padahal belum pernah satu kali pun kami bertemu muka.

Semakin tahun, saya bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Meskipun karena kesibukan masing-masing, kami jarang sekali ngobrol sebanyak dulu, tapi saya tahu saat dia sedang sedih, sedang gembira, sedang kepingin mencekik orang, sedang berapi-api dengan calon-calon novel barunya, sedang sakit, atau sedang ingin menyendiri.

Menjelang akhir tahun kemarin, dia sedang mempersiapkan fase hidup yang baru yang akan membuatnya bisa makin menekuni dunia yang selama ini ia cintai: menjadi guru dengan lebih baik lagi tanpa terganjal ‘orang sirik’. Ia penulis novel jempolan yang sekaligus guru idaman: selalu membuat murid-muridnya mengerti apa yang dia ajarkan.

Waktu memang terbang tidak bilang-bilang. Tapi setiap bertemu kembali tanggal ini, saya selalu berhenti dan berterima kasih pada waktu. Waktu yang membuat saya tahu bagaimana saya beruntung bisa mengenalnya. Saya bersyukur. Suatu hari nanti saya akan bertemu dengannya dan akan memeluknya langsung sembari mengucapkan kalimat-kalimat yang selama ini hanya berhasil saya tuliskan di sini, setiap tanggal delapan maret.

Selamat Ulang Tahun, Mak.

Panjang umur, sehat, dan terkabul semua yang elu cita-citakan.

Amin.

Transportasi Untuk Ibukota

Tulisan ini sebelumnya dimuat di KabarJakarta.com edisi 5 Desember 2011.

Transportasi Untuk IbukotaSaat saya mendengar bakal munculnya Mass Rapid
Transit di Jakarta yang memiliki jalur layang dan jalur bawah tanah,
mau tak mau saya teringat transportasi bernama subway yang berada di
New York.

Tulisan ini bukanlah sebuah tulisan yang berusaha membandingkan
kondisi Jakarta dengan New York. Keduanya jelas tak bisa dibandingkan
karena memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Dalam hal ini, saya
hanya mencoba berbagi informasi dan bercerita sebagai orang yang
pernah tinggal di Jakarta dengan segala situasi lalu lintasnya juga
merasakan menjadi penumpang di kesesakan subway di kota Apel Besar.

Di bawah tahun 2000, Jakarta sudah kenal macet. Saya telah merasakan
jalanan di Jakarta memakai angkutan segala rupa, mulai dari ojek,
bajaj, bemo, mikrolet, bus tanpa dan dengan AC, sampai bus tingkat.
Kemacetan saat itu cukup bisa ditoleransi. Paling lama hanya sampai
setengah jam berhenti di jalan, setelah itu pasti bergerak kembali.
Kendaraan roda empat juga masih enak untuk disetiri sendiri tanpa
harus frustrasi atau mengakibatkan punggung sampai kaki tegang hingga
akhirnya migren datang dan pekerjaan tak bisa diselesaikan secepat
kilat. Melewati tahun 2000, lalu setiap tahun setelahnya, ceritanya
menjadi lain.

Saya pernah menghabiskan waktu hampir satu setengah jam untuk bisa
sampai di gedung Ambassador Kuningan di jalan Profesor Satrio dari
tempat saya sebelumnya di gedung Wisma Dharmala Sakti yang jaraknya
hanya sepelemparan batu. Jarak dua gedung itu makan waktu hanya lima
menit jika memakai ojek. Sejak itu, naik angkutan atau menyetir
sendiri harus melibatkan benak yang penuh dengan pertimbangan dan
alternatif yang bisa dilaksanakan. Semuanya cuma demi menyelesaikan
satu soal sepele: bagaimana caranya agar bisa sampai dari titik A ke
titik B, dengan sesedikit mungkin waktu terkuras di jalan. Itu baru
tahun-tahun awal setelah tahun 2000. Bagaimana dengan tahun setelah
2010? Terjebak macet lebih dari empat jam di jalan sudah jadi hal yang
biasa ditemui.

Persoalan macet ini tidak bisa dianggap remeh karena bisa menjalar
kemana-mana. Lamanya waktu terbuang di jalan, waktu bersama keluarga
yang berkurang banyak, kepala mendidih semakin cepat,
penyakit-penyakit yang muncul seperti pernafasan dan lain-lainnya,
akhirnya jadi menu berikutnya yang bisa dijumpai di ibukota.

Dari sisi perempuan yang harus bekerja untuk keberlangsungan kehidupan
keluarga, yang terjadi adalah: rasa capek yang luar biasa, belum lagi
jika punya anak dan suami yang tak mau tahu urusan tetek bengek
kerumahtanggaan. Hanya dari soal macet saja dan ketiadaan transportasi
yang baik, hal-hal sepele bisa jadi besar karena kepala yang berasap
menahan frustrasi di jalan.

Data Departemen Kesehatan tahun 2007 (VIVAnews; 18 April 2009)
menunjukkan bahwa orang gila terbanyak ada di Jakarta yang mencapai
2,03 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Salah satu pemicunya?
Tepat sekali: macet. Waktu yang terbuang di jalan membuat kegiatan
kerja jadi lebih padat, waktu istirahat lalu jadi kurang, begitu juga
dengan waktu olahraga.

Tidak mengherankan kalau sekarang makin banyak perempuan yang mencoba
berbisnis di rumah sehingga tidak perlu keluar dan kehabisan waktu
yang cuma 24 jam dalam sehari itu. Perempuan-perempuan ini juga
tadinya adalah pekerja kantoran yang sebelum akhirnya terjun total
menjadi pekerja independen biasanya harus memiliki kepastian lebih
dulu bahwa keputusannya ini pas, dalam arti: pekerjaan suami masih
bisa menutupi keuangan keluarga jika terjadi kegagalan usaha, dan
adanya alternatif tabungan yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Tentu
saja ini adalah keputusan individu yang tidak bisa dipakai sebagai
justifikasi tertundanya terus menerus solusi kemacetan di Jakarta.

Macet berarti habis waktu, habis tenaga, habis uang, habis energi.
Menurut data dari Dinas Perhubungan Maret 2011, kerugian karena macet
setiap tahunnya mencapai rata-rata 46 triliun rupiah. Komponen ruginya
mencakup biaya bahan bakar kendaraan, biaya operasi kendaraan, biaya
kehilangan nilai waktu, biaya kehilangan potensi ekonomi, transaksi
tertunda, biaya pencemaran udara/polusi yang menyebabkan berbagai
penyakit pernapasan, tekanan psikologis/stress berat dan lain
sebagainya.

Kota yang macet, selain gila, bisa menumbuhkan orang-orang yang penuh
amarah. Kalau tidak segera diatasi, akan muncul (atau mungkin justru
sudah banyak) zombie-zombie dengan problem psikis yang pelan-pelan
menumpuk karena kota yang tidak terurus dengan baik.

Apa yang melanda Jakarta pernah terjadi di New York. Bedanya, New York
versi Jakarta sebelum tahun 2000 sudah langsung membuat orang-orang
pemerintahan lokal yang punya visi, berpikir keras untuk segera
mengadakan penyelesaiannya yang tak sekedar asal comot dan asal taruh,
tetapi penyelesaian yang terintegrasi dan bersifat jangka panjang.

Pertumbuhan penduduk dan ekonomi di kota New York meledak setelah
tahun 1820an. Menurut Clifton Hood dalam 722 Miles: The Building of
the Subways and How They Transformed New York, penawaran atas
dibangunnya transportasi cepat di New York sudah mulai bermunculan
sejak kereta bawah tanah pertama di dunia di London dibuka tahun 1863.
Pada 31 Januari 1888, Walikota Abram S. Hewitt, yang juga seorang
pengusaha pabrik besi, membuat proposal pembangunan jalur kereta
cepat. Yang membuatnya berbeda dari proposal lainnya adalah bagaimana
ia menempatkan sebuah hubungan yang kritis antara teknologi maju dalam
hubungannya dengan keberadaan efektivitas bisnis dan pemerintahan. Ide
ini disambut oleh Kamar Dagang New York dengan baik.

Sebagai respons atas ledakan perkembangan ini, biarpun terhambat
dengan geografi kota yang sulit (contohnya, adanya sungai yang
melintas dan membatasi wilayah satu dengan lainnya), para politisi
yang punya visi ke depan bekerja sama dengan pengusaha makmur mulai
memikirkan sistem yang akan menyatukan wilayah-wilayah di New York
secara geografis.

Tentu saja ada banyak konflik yang terjadi dalam pembangunan subway
ini. Dari kurang lebih 40 tahun pembangunan subway, tahun 1888 hingga
1907 pembangunan didominasi  para pengusaha yang punya kepentingan
bagi mereka sendiri. Setelah 1907, politisi profesional-lah yang
membuat keputusan-keputusan penting bagi pembangunan subway. Satu hal
yang mengemuka dari pembangunan dan akhirnya pemeliharaan subway di
New York ini adalah bagaimana para pejabat yang punya tanggung jawab
pada warganya, selalu menomorsatukan kepentingan khalayak yang banyak
daripada bersekongkol dengan segelintir pengusaha demi keuntungan
pribadi.

Subway kini menjadi bagian tak terpisahkan dari New York. Tanpa
transportasi ini, tidak akan ada kota Apel Besar seperti yang
terhidang sekarang. Tidak ada kota lain di Amerika yang sangat
tergantung dengan sistem transit massa seperti yang ada di New York.
Di tahun 1989, 46 persen pekerja New York menggunakan subway untuk
pergi ke tempat kerja mereka. Angka ini sangat tinggi dibanding
kota-kota di Amerika Serikat lainnya. Tanpa subway, perkantoran di
Wall Street dan midtown Manhattan bakal berhenti. Simbol New York bisa
saja gedung pencakar langit yang menunjukkan kekayaan, kekuasaan dan
ukuran spektakuler kota. Dan, dibandingkan dengan elegansi
gedung-gedung tinggi itu, subway – yang tetap tersembunyi dari
penglihatan di jalan, berada di bawah permukaan, kotor dan sering
sekali kepenuhan penumpang – jarang sekali mengundang decak kagum.
Tapi, tanpa subway, gedung pencakar langit itu hanya bakal jadi gedung
tanpa penghuni, yang berarti tidak akan bergerak menghasilkan produksi
bagi kota.

Keberadaan transportasi ini punya sumbangan terhadap terbentuknya
pembangunan daerah-daerah yang tadinya tak berpenghuni di sekitarnya.
Taruhlah Jackson Heights di kawasan Queens yang lebih dari 100 tahun
lalu “cuma” berupa sawah dan lapangan kosong. Barangkali sama seperti
Kampung Bandan tahun 2000 yang kosong dan seram. Sekarang Jackson
Heights telah punya kehidupannya sendiri. Banyak tempat-tempat usaha,
tempat tinggal, apartemen sewaan dengan keragaman sosial yang tinggi
dan kafe ataupun warung makan (minus terbuangnya banyak waktu di
jalan).

Subway ini tak cuma berhenti pada pembangunannya. Ia adalah
transportasi massa besar-besaran yang butuh lebih dari sekedar ada dan
dibangun. Selain pemeliharaan yang terus dilakukan setiap saat karena
kesadaran bahwa saat tidak dipelihara baik ia gagal menjadi fasilitas
publik yang aman, subway juga punya kekuatan polisi sebanyak 4250
orang yaitu The New York City Transit Police Department, yang lebih
besar dari seluruh departemen kepolisian di kota-kota lain di Amerika
seperti Boston, Atlanta, St. Louis, Dallas, Denver, dan San Fransisco
(Hood;1995).

Subway mengubah lanskap kota New York dengan merangsang pertumbuhan
real estate di kawasan atas Manhattan dan di wilayah-wilayah luarnya.
Ia mengubah cara warga mengalami kota mereka dengan menggerakkan para
penumpangnya di bawah permukaan tanah, memendekkan jarak, dan
mempercepat langkah kehidupan kota.

Pembangunan monorail kemarin yang terbengkalai semoga tidak terjadi
lagi pada MRT di Jakarta ini. Jadi, warga yang terpaksa harus lebih
lama berada di jalan karena macet itu bisa memaklumi bahwa kemacetan
mereka sekarang ini adalah untuk pendeknya waktu mereka di jalan
nanti. Kalau cuma sekedar jadi permainan proyek dan korupsi antara
politisi lokal dan pengusaha yang terlibat, Jakarta bakal jadi kota
yang gagal.

Siapa Suruh Datang Jakarta milik Koes Plus itu cuma pas untuk
dinyanyikan tapi tidak pas jika dijadikan frasa untuk menyalahkan
pendatang. Menurut data dari Ernan Rustiadi dan Dyah Retno Panuju
dalam Suburbanisasi Kota Jakarta, penyebab utama Jakarta jadi kota
tujuan perpindahan penduduk dari berbagai kota lain di Indonesia
adalah karena  pembangunan selama masa orde baru yang bias ke
perkotaan dan bias Jawa. Kedatangan para penduduk kota lain ke ibukota
bukan untuk bersenang-senang, melainkan mencari penghidupan yang lebih
baik yang tidak tersedia atau tidak cocok dengan keahlian pribadi
maupun minat mereka di kota-kota asal.

Data Dinas Perhubungan juga menyebutkan bahwa faktor macetnya Jakarta
adalah karena jalan yang cuma sedikit, tetapi volume kendaraan pribadi
lebih banyak daripada kendaraan umum. Selain alternatif pembangunan
MRT yang masih dalam rencana dan pelaksanaan, pembatasan pemakaian
mobil pribadi menjadi penting. Namun, mereka yang naik mobil pribadi
tidak akan pernah mau berkorban untuk naik angkutan umum jika
cerita-cerita semacam pemerkosaan di angkutan kota marak terjadi dan
reaksi polisi atas kejadian ini amat ringan seolah cerita pemerkosaan
sama dengan cerita anak yang jatuh karena main lompat tali. Butuh
pelaksanaan hukum yang jelas dan ketat yang diikuti dengan pengamanan
yang terus menerus.

Sekarang sudah ada gerakan naik sepeda ke kantor. Mereka patut
diacungi jempol karena berusaha menyelesaikan permasalahan kota tanpa
menunggu inisiatif para pejabat. Namun, ini tidak boleh jadi alasan
bagi mereka yang berwenang untuk berleha-leha lebih lama dalam
mengadakan fasilitas publik yang aman untuk warga. Adalah hak warga
untuk mendapatkan fasilitas ini dari pajak yang sudah mereka bayarkan
selama ini pada pemerintah.

Tujuan akhir semua ini tentunya adalah apa yang kita semua mau: kota
yang lebih cerdas dan penduduk yang lebih bahagia. Semoga ini akan
segera terwujud.

Pengalaman Menonton “Jagal”

Tulisan ini sebelumnya sudah saya unggah ke blog ini pada awal November 2012 dan menjadi tulisan terakhir saya tahun itu sebelum akhirnya kena hack yang saya pikir adalah ulah orang cemen. Beraninya nge-hack, nggak bikin tulisan tandingan :)

Salah satu tim film “Jagal” sempat mampir kemari dan meninggalkan pesan juga di blog.  

The Act of Killing

Saat dia tahu blog saya kena hack dan tulisan saya hilang semua termasuk The Act of Killing, dia bilang dia menyimpan dengan baik tulisan saya dan akhirnya saya mendapatkan lagi postingan ini lewat email. Saya masukkan kembali di sini. Selamat membaca.

TAoK

Ada pelaku pembunuhan orang PKI (atau yang dituduh sebagai PKI) di tahun 65-66 yang ingin bikin film tentang dia dan kelompoknya saat mengerjakan aksi bunuh itu. Pembuatan film ini didokumentasikan ke dalam sebuah film berjudul The Act of Killing.

Dua kalimat di atas adalah garis besar dari apa yang disuguhkan Joshua Oppenheimer dalam film dokumenter tentang Anwar Congo, tokoh organisasi pemuda di Medan, Sumatera Utara yang bangga atas pembunuhan yang dilakukannya.

Biarpun sudah kakek-kakek, Anwar Congo tahu betul bagaimana membuat penampilannya tampak ‘cool’ dan ‘classy.’ Ia senang tampil dengan setelan jas, topi koboi, tak lupa pula kacamata hitam. Semua gaya dan tindak-tanduknya ia ambil dari aktor-aktor seperti John Wayne, Marlon Brando, atau Al Pacino. Anwar awalnya cuma preman kelas teri, tukang catut karcis film yang sering nongkrong di bioskop dan menonton film-film buatan Amerika. Ketika akhirnya menjadi pembunuh PKI, film gangsters made in USA inilah yang jadi inspirasinya untuk menjagal secara “cepat dan tidak banyak keluar darah.”

Dari awal film ini berjalan sampai kurang lebih 20 menit terakhir, saya menonton dengan tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Orang-orang di dalam film ini memperagakan dan membeberkan semuanya tanpa merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kejahatan. Saya seperti sedang melihat sebuah rumah sakit jiwa dengan penghuni-penghuninya yang percaya diri, begitu meyakinkan, dan akan membuat siapapun orang waras yang datang ke RSJ mengira mereka adalah para pengurus rumah sakit dan dokter jiwa yang ahli di bidangnya. Kata ‘ironis’ tidak bisa lagi mewakili apa yang disuguhkan film ini, saking jungkir baliknya sense of normal  dan sense of what is right yang ditunjukkan.

Ini salah satu bukti lagi betapa jeniusnya Orde Baru dalam mencuci otak nyaris seluruh penduduk Indonesia tentang kasus genosida 1965. Dalam versi cuci otak Orba, yang penuh kekejaman adalah PKI hingga mereka perlu ditumpas dengan segala cara: dipenjara, diasingkan, dibikin sulit hidup layak, sampai dibantai dalam jumlah besar.

Saya adalah produk Orde Baru. Dicekoki setiap 30 September dengan film mengerikan berjudul G30S/PKI. Saking mengerikannya, mendengar lagu temanya saja sudah bikin saya merinding. Brainwash Orba saat saya kecil dulu sungguh berhasil bikin saya takut dengan PKI. Yang ada di benak saya waktu itu adalah PKI identik dengan kekejaman.

Setelah saya besar, berdiskusi dengan orang-orang yang paham dan mempelajari tentang kasus 1965, membaca artikel dan buku yang ada kaitannya dengan PKI, menonton film dokumenter tentang orang-orang yang dibungkam karena dianggap PKI, sampai bertemu dengan orang-orang PKI sendiri, pelan-pelan hasil brainwash yang sudah bercokol di kepala saya bertahun-tahun itu berganti dengan rasa gondok luar biasa. Gondok karena ditipu habis-habisan oleh propaganda Orde Baru.

Sampai sekarang, sejarah yang masih  tercatat adalah sejarah produk Orba. Harus berinisiatif sendiri jika ingin tahu lebih banyak soal apa yang sebenarnya terjadi di tahun pembantaian itu. Dan ini pun bukanlah pekerjaan mudah karena sangat sedikit literature yang bisa dijadikan rujukan.

Untuk mereka yang sudah mengerti dan mencari tahu versi lain yang beredar tentang 1965, film ini mengkonfirmasi kekejaman dan kekurangajaran Orde Baru. Tidak ada yang baru kecuali bahwa di film ini, baru pertama kalinya si pelaku unjuk gigi. Bagi mereka yang belum tahu namun cukup berpikiran terbuka, film ini bisa jadi mengguncang jagad “kemurnian pikir” yang selama ini sudah mereka yakini. Untuk para pengikut Soeharto yang sejati, film ini mungkin cuma ditanggapi sambil lalu sambil berkomentar, “Ah, orang-orang ini kurang kerjaan dan rewel saja.” Atau bisa jadi mereka lalu tergugah untuk mencari tahu lebih dalam tentang 1965, … untuk yang pertama kalinya. Saya berharap yang terakhirlah yang terjadi.

Di beberapa adegan, film ini menampilkan hal lucu yang susah untuk ditertawakan. Seperti saat ada anak yang disuruh berakting menangis saat rumahnya dibakar. Anak perempuan ini mungkin berumur 6 atau 7 tahun. Ia masuk jadi salah satu bintang figuran di adegan penyerbuan dan pembakaran rumah. Akting penyerbuan yang dilakukan kru film Anwar Congo dan kawan-kawan itu begitu merasuk, sampai-sampai setelah acara pengambilan gambar selesai, si anak masih terus menangis. Oleh salah satu anggota kru film, ia dipeluk dan dihapus air matanya, “Kamu aktingnya bagus, Nak. Tapi jangan terus-terusan dong nangisnya. Bintang film itu nangisnya cuma ketika di-syut.”

Tangisan anak yang terus mengalir ini seolah jadi simbol reaksi waras yang sayangnya harus berhenti. Berganti dengan menikmati hidup “sehat waras a la Orde Baru” di mana penjahat bisa menepuk dada penuh bangga, tanpa rasa takut akan ditangkap dan dipenjarakan karena perbuatan jahatnya.

Satu-satunya yang normal dalam film ini hanyalah delapan menit adegan terakhir. Sisanya bersiaplah jungkir balik. Film The Act of Killing harus ditonton dengan pikiran terbuka  dan hati yang menerima.

Saya sungguh salut pada Joshua Oppenheimer. Dia membuat film dengan pendekatan yag ia sebut sebagai dokumenter observasional tentang imajinasi narasumber, bukan kehidupan si narasumber sehari-hari. Sebuah film yang patut ditonton siapapun yang ingin menyaksikan betapa absurdnya hidup hasil cuci otak. Betapa harus kita lihat dengan jelas bahwa pemerintah Indonesia setelah tahun 65 adalah pemerintah yang memandang preman sebagai kawan seiring sejalan, dan karenanya mengharapkan pemerintah untuk membereskan dan menindak preman adalah tindakan yang… terlalu polos.

Film ini mengolok-olok ‘kepercayaan’ yang sudah berurat akar dalam perilaku dan budaya sehari-hari. Ingat cara para motivator memakai kalimat positif untuk membuatmu percaya bahwa kamu adalah “apa yang kamu pikirkan dan yakini”? Dalam kasus Anwar Congo, ia memakainya untuk membuatnya percaya bahwa ia bukanlah pembunuh. Sebaliknya, ia percaya ia justru berjasa karena membuat mereka yang ia bunuh menjadi mati bahagia karena dikirim masuk surga.

What a world we live in…

12 Tahun

12 TahunCerita ini bermula dari tatapan sekilas yang menghentikan jantung dalam beberapa jeda dua belas tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit. Di sebuah ruangan yang dingin dan ngilu, Rimbi dan Panji, mereka, bertemu.

Perasaan hangat mampir dalam tatapan. Sebuah perasaan yang sudah lama tak Rimbi rasakan. Meskipun ia telah menjalin sebuah hubungan kasih dengan seseorang.

Perasaan ini terus hinggap bahkan ketika ia sudah pulang. Rimbi terheran-heran dengan begitu kuatnya hangat itu menetap. Orangnya saja sudah tidak ada di depan mata. Tetapi hatinya seperti pemanas ruangan yang bekerja tidak ada hentinya.

Rimbi memang belum milik siapa-siapa. Meskipun orang-orang tahu siapa yang sedang dipacarinya. Dan orang-orang pun tahu bagaimana seriusnya hubungan mereka. Sebagai perempuan, terutama karena sudah punya pacar, tak mungkin ia menunjukkan isi hatinya pada Panji.

Tetapi Rimbi sudah berjanji dalam hati, “Kapanpun Panji ingin masuk ke dalam hatiku, akan kubukakan pintu seluas-luasnya.”

Tatapan sebentaran itu disimpannya dalam tenang. Dipupuknya menjadi harapan. Rimbi mulai mengetahui siapa Panji yang sebenar-benarnya. Dan perasaannya yang hangat itu bercampur dengan kekaguman. Yang makin lama makin besar. Tetap ia simpan dengan tenang yang berdetak dalam gejolak.

Ia menunggu dan menunggu. Dan menunggu dan menunggu. Dan, ia terus menunggu.

Panji tak pernah sekali pun mengetuk hatinya yang sudah siap terbuka itu. Rimbi mulai bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan hanya dialah yang merasakan kehangatan dalam tatapan yang pernah mereka alami.

Rimbi pun akhirnya memutuskan untuk menyeriusi hubungan yang sudah ia jalani. Meskipun tak ada lagi rasa hangat di hati. Bersama lelaki yang sudah mendampinginya lama, ia menyaksikan sejarah sebuah kehancuran hatinya sendiri. Berbagai masalah datang dan pergi, dan ia berusaha tetap berada di samping seseorang yang berstatus sebagai kekasihnya ini.

Ia tidak kecewa saat mengetahui sang kekasih ternyata sudah mendua. Ia sadar setiap orang selalu punya rahasia. Seperti ia dengan rahasianya: menyimpan kekaguman yang dalam bertahun-tahun di dasar hatinya.

Ia mengerti bahwa hidup bisa membuatnya tersesat. Ia paham bahwa hati dan kenyataan yang terjadi tak banyak berkompromi. Toh, ia menjalaninya dengan sepenuh hati dan berjuang untuk terus berada dalam komitmen yang sudah ia lakoni. Sampai waktunya tiba dan ia berkata, “Cukup.”

Ia sendirian kini. Merasakan kelegaan.

Panji, lelaki yang ia kagumi dari jauh itu, hanya ia dengar kabarnya. Kabar kepergiannya ke lain dunia untuk menuntut ilmu. Dan ke dunia lain lagi untuk ilmu yang lain lagi. Hanya soal ilmu yang selalu ia dengar. Selain itu, ia tidak pernah mengetahui apapun. Ia menyukai tenggelam dalam pekerjaan yang dicintainya: wartawati sebuah kantor berita asing.

Suatu hari, dalam sebuah milis yang diikutinya, ia menemukan nama Panji yang saat itu masih berada di negeri lain. Rimbi yang memang sedang mencari kesempatan untuk sekolah lagi itu menghubungi Panji dan menanyakan padanya apa saja yang harus ia siapkan. Panji dengan semangat memberikan padanya banyak informasi. Dan untuk beberapa lama, mereka terus menerus berkomunikasi melalui surat elektronik dengan tema yang itu-itu saja.

Sampai suatu ketika, Panji menanyai Rimbi tentang hal yang lebih spesifik,

“Statusnya selain sebagai wartawan, apa lagi nih? Ibu? Atau baru istri?”

Rimbi membalasnya sambil tersenyum riang, “Aku jomblo Mas. Jomblo bahagia loh tapinya.”

Di email balasan, surat Panji mengesankan bahwa ia dulu menyimpan kekaguman pada Rimbi, meskipun tidak terang-terangan.

Rimbi menjawabnya dengan keterusterangan yang ingin dia keluarkan dengan sopan dan penuh hormat, “Jujur saja Mas, dari dulu aku selalu kagum padamu.”

Panji membalasnya lagi, “Sebetulnya, ada satu momen yang pernah menjadi sesuatu yang tidak terlupakan buatku. Saat itu adalah dua belas tahun yang lalu. Tepatnya, saat aku ketemu kamu di rumah sakit. Aku merasakan bagaimana kehangatan tiba-tiba hadir di hatiku…”

Melihat tulisan itu, jantung Rimbi berhenti. Tiba-tiba saja ia merasa lemas. Ia sampai nyaris tidak bisa menjawab apa-apa. Kecuali hanya, “Hal yang sama terjadi padaku, Mas. Di rumah sakit itu.”

Dari percakapan surat elektronik itu, Rimbi mengetahui apa yang menghentikan Panji untuk mengetuk hatinya. Kakak ipar Rimbi, yang adalah teman sekelas Panji waktu SMA, saat itu ditanyai oleh Panji, “Rimbi sudah punya calon belum?” Pertanyaan ini dijawab kakak ipar Rimbi dengan jawaban singkat, “Sudah. Dan serius.” Dengan demikian, Panji memutuskan untuk mengubur dalam-dalam keinginannya menyatakan perasaannya pada Rimbi.

Seandainya dia tahu bahwa sebelum dia minta pun, aku sudah menyiapkan pintu itu untuk selalu terbuka hanya untuk dia…

Duabelas tahun mereka memendam perasaan yang ternyata sama persisnya. Hati Rimbi ternyata tidak menipu. Meskipun sudah membiru.

Dulu, ia telah dimiliki. Kini, Panji yang sudah dimiliki. Bahkan telah menikah dan dikaruniai seorang anak.

Seperti harta karun, dua belas tahun cinta Rimbi dan Panji terpendam. Dan ketika akhirnya sama-sama mengeluarkannya dari dasar bumi, mereka tahu bahwa harta itu ada disana. Meskipun mereka sama-sama tahu mereka tidak bisa saling memiliki. “Aku akan selalu menghormatimu, Mas. And that’s why, I will never ruin everything that you have. Kita berterus terang seperti ini saja, sudah sangat luar biasa bagiku. Terima kasih atas keterusterangannya.”

Tentu saja perih menjadi teman dalam satu malam. Namun hati Rimbi sudah tenang. Ia dan Panji sama-sama mengetahui bahwa cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Sudah cukup. “Aku akan mengenangnya sebagai periode indah dalam hidupku yang masih panjang ke depan,” ucap Rimbi dalam hati.

Dia tidak perlu menangis. Meskipun hidup ini menyesatkan, tapi ia selalu akan mendengar apa yang dikatakan oleh hatinya yang paling dalam. Suatu saat nanti, ia akan mendapatkan hatinya dan jalan hidupnya, dalam satu irama. Pada saat itu terjadi, ia percaya, itulah yang Tuhan inginkan buatnya.

Buat Rimbi, love and lots of hugs for you~Fitri Mohan